Senin, 18 April 2011

Aneka Berita

Posted: 17 Apr 2011 05:08 AM PDT
Badan Antariksa Rusia (Roscosmos) dan Badan Antariksa dan Aeronautika Amerika (NASA) sepakat bekerja sama dalam pengembangan mesin bertenaga nuklir untuk pesawat ruang angkasa, menurut laporan beberapa media, Senin. Kepala Roscosmos, Anatoly Perminov, seperti dikutip Xinhua di pusat antariksa Kazakh Baikonur, mengatakan Rusia telah melakukan inisiasi untuk membangun mesin bertenaga nulir bersama dengan NASA hingga 2019 dan menggunakan mesin tersebut untuk penerbangan ke planet Mars.

Mesin tersebut akan membuat penerbangan ke Mars ditempuh dengan waktu 20 kali lebih cepat, kata Perminov, seraya menambahkan pertemuannya dengan Kepala NASA, Charles Bolden, dijadwalkan pada 15 April mendatang. Sementara itu Perminov membenarkan peluncuran sebuah pesawat tanpa awak untuk mendarat di salah satu satelit planet Mars yang dijadwalkan pada Oktober tahun ini.

Pesawat ruang angkasa Phobos-Grunt akan dikirimkan ke permukaan Phobos, dengan membawa satelit mikro buatan China, YH-1, yang akan menjadi penjelajahan pertama negara itu ke planet Mars. Perminov juga mengatakan Rusia mungkin akan memulai kembali program pariwisata luar angkasa mereka dalam dua tahun, dengan harga tiket yang ditetapkan berada di kisaran 50 juta dolar AS.

Ia menambahkan Rusia berencana untuk meningkatkan pesawat ruang angkasa Soyuz mereka yang akan diluncurkan mulai tahun 2013 dan mengikutsertakan kosmonot Ukraina serta Kazakhstan sebagai awaknya. Perminov juga mengungkapkan rencana Rusia untuk membangun tempat peluncuran tambahan di pusat ruang angkasa Baikonur di Kazakhstan pada akhir 2011.

Hari ini (5/4), pesawat ruang angkasa Rusia, Soyuz TMA-21, yang membawa tiga astronot akan diluncurkan dari pusat ruang angkasa Baikonur.
Posted: 17 Apr 2011 05:00 AM PDT
SURABAYA, KOMPAS.com - Seluruh guru diharapkan tidak melakukan tindak kecurangan pada ujian nasional (UN) yang akan digelar dua hari lagi, yaitu Senin (16/4/2011), mulai membuat kunci jawaban, membocorkan soal, mendongkrak nilai rapor, dan lain-lainnya. Guru itu teladan kejujuran.
"Kami harapkan semuanya bisa menyebarluaskan kejujuran dan menolak segala macam bentuk kecurangan.
-- Mohammad Ihsan
"Sangat prihatin jika ada guru yang berlaku curang. Jangan ajari anak didik dengan kecurangan. Apa jadinya jika guru yang dihormatinya mengajarkan kecurangan," kata Sekretaris Jenderal IGI Mohammad Ihsan, di Surabaya, Sabtu (16/4/2011).

Ihsan meminta seluruh anggota IGI di seluruh Indonesia tidak melakukan kecurangan. Sekjen IGI ini juga meminta DPW dan DPD IGI di seluruh Indonesia menyebarluaskan instruksi ini ke anggotanya.
"Kami harapkan semuanya bisa menyebarluaskan kejujuran dan menolak segala macam bentuk kecurangan. Kami juga telah membentuk posko pengaduan melalui jujurUN@igi.or.id," ujarnya.

Ia menambahkan, semua pengaduan diharapkan disertai kejelasan identitas dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Pihak IGI akan menyerahkan semua laporan pengaduan itu kepada Menteri Pendidikan.
Ihsan mengatakan, hal itu dilakukan karena prihatin setiap UN tiba selalu saja masyarakat disodori segala macam berita kecurangan, mulai kebocoran soal, beredarnya kunci jawaban, intrik kepala sekolah dan guru, dan banyak lagi.

"Tujuan UN sendiri sepertinya tidak tercapai," katanya.

Ihsan berharap, pemerintah bisa lebih adil memberikan evaluasi kepada siswa. Siswa dan guru, kata dia, jangan lagi dikorbankan hanya untuk memuaskan kepentingan pragmatis.

"Guru dan siswa sudah bersusah payah melakukan proses belajar-mengajar, membuat berbagai macam bentuk evaluasi, namun pada akhirnya kelulusan masih saja didominasi kekuasaan. Pemerintah sebaiknya hanya mengatur regulasi dan tak lagi ikut mengevaluasi belajar siswa seperti UN ini," pungkasnya.
Posted: 17 Apr 2011 05:02 AM PDT
Peningkatan populasi ulat bulu yang sangat tinggi belakangan ini diduga turut disebabkan perubahan ekosistem secara global. Salah satu indikasinya, peningkatan tersebut merata di sejumlah daerah di Indonesia.

Hal ini dikemukakan oleh Prof Dr Deciyanto Soetopo, Peneliti Utama Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbang Kementan), di lokasi habitat ular bulu, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Rabu (13/4/2011).

"Secara global, ada gejala yang sama. Dari lingkungan biotik maupun abiotik, faktor penghambat atau penekan perkembangan ulat bulu semakin berkurang. Faktor biotik, misalnya, predator ulat bulu semakin langka. Sementara faktor abiotiknya, curah hujan yang tinggi sepanjang tahun lalu justru mengakibatkan predatornya berkurang," papar Deciyanto.
@ kompas.com
Ia mencontohkan, di lokasi habitat ulat bulu di Tanjung Duren, Jakarta Barat, hampir tidak ditemukan spesies pemangsa ulat bulu, seperti burung, sejenis serangga seperti capung, dan semut. Parasitoid atau mikroorganisme parasit yang hidup di telur ataupun di tubuh ulat bulu pun belum terlihat.

Tanda-tanda tersebut menunjukkan adanya gangguan ekosistem, yakni hilangnya keseimbangan alami dalam lingkungan hidup.

Perubahan iklim juga dipandang sebagai salah satu pemicu pertumbuhan drastis ulat bulu. Curah hujan yang terlampau tinggi, misalnya, tidak terlalu berpengaruh terhadap ulat bulu, tetapi hal itu justru menjadi faktor penghambat perkembangan spesies pemangsanya.

Dengan adanya indikasi yang sama di berbagai daerah yang dilanda peningkatan populasi ulat bulu, Deciyanto menyimpulkan telah terjadi perubahan ekosistem secara global. "Gejala-gejala ini kan terlihat di mana-mana, termasuk di sini. Faktor penghambat populasi ulat bulu sudah semakin langka. Kita bisa berasumsi ada perubahan ekosistem secara global, baik lingkungan biotik (bernyawa) maupun abiotik (tak bernyawa)," jelas Deciyanto.

Menurutnya, cara terbaik untuk mengatasi peningkatan populasi ulat bulu adalah melalui pengendalian alami, yakni tersedianya jumlah pemangsa dalam jumlah yang seimbang. "Tapi, kalau meningkat drastis seperti saat ini, ya kita pakai cara darurat, yaitu penyemprotan insektisida, seperti pestisida," tukasnya.

Meski demikian, Deciyanto mengingatkan, penggunaan insektisida pun harus diperhitungkan kadarnya. Jika tidak, predator dan parasitoid ulat bulu bisa ikut musnah. Hal ini berbahaya karena kecepatan pertumbuhan ulat bulu jauh lebih tinggi dari spesies predatornya.
Posted: 17 Apr 2011 04:59 AM PDT
Proyek teleskop radio terbesar di dunia tengah diupayakan oleh beberapa negara, termasuk kalangan ilmuwan. Pembangunan teleskop bernama Square Kilometre Array (SKA) tersebut diperkirakan mencapai angka 2,1 miliar dollar AS.

Ketika sudah terbangun, teleskop itu akan berukuran 50 kali lebih besar dari teleskop saat ini. Teleskop akan terdiri dari 3.000 antena yang merentang di wilayah sepanjang 5.500 km. Separuh antena akan berada di wilayah sentral seluas 25 km persegi.

Semua informasi yang diterima akan ditransfer dengan kecepatan 100 TB per detik. Informasi akan diproses di sebuah superkomputer yang bekerja dengan kecepatan 1 juta juta juta per detik, atau 1 exabyte.

Ada dua pilihan lokasi tempat pembangunan teleskop superbesar itu, yaitu Australia dan Afrika Selatan. Penentuan lokasi akan dilakukan tahun 2012 nanti berdasarkan beberapa faktor, salah satunya adalah rendahnya gangguan frekuensi radio.

Lalu, apa gunanya SKA itu nanti? Professor Dame Jocelyn Bell Burnell, astronom terkemuka dan President The Institute of Physics, mengatakan, kekuatan teleskop radio ini akan melampaui hal-hal yang pernah kita lihat sekarang.

"SKA akan menjadi teleskop radio pertama yang membuat kita mampu memahami apa yang terjadi pada ratusan tahun pertama setelah Big Bang dan melacak sejarah gas, gas di mana bintang berasal sepanjang masa kosmos," kata Boyle.

"SKA bisa memungkinkan kita melihat bagaimana gas membentuk bintang dan bintang membentuk galaksi. Anda juga bisa melihat beberapa bintang beserta piringan dan material terbentuk di sekitarnya yang akan membentuk planet," lanjut Boyle.

Boyle mengungkapkan, SKA menandai perkembangan fisika pasca-Einstein yang akan membantu manusia untuk membuat langkah memahami obyek-obyek angkasa mengagumkan dan masa tergelap jagat raya.

Meski demikian, Boyle tak mengungkapkan lebih spesifik apa yang akan ditemukan dengan SKA. Ketika ditanya, ia hanya menuturkan, "Jika saya bisa memprediksi, maka kami tak akan sebegitu ambisius."

Teknologi yang dibutuhkan untuk mengembangkan SKA sendiri hingga kini belum ada. Namun, kolaborasi antara ilmuwan dan industri diharapkan bisa menyediakannya dalam jangka waktu lebih cepat.

Kesepakatan pembangunan SKA ditandatangani oleh beberapa negara dalam pertemuan di Roma. Negara yang menandatangani, antara lain Australia, China, Perancis, Jerman, Italia, Selandia Baru, Belanda, Afrika Selatan, dan Inggris.

Totalnya, ada 20 negara yang terlibat pembangunan teleskop ini. Mereka akan membentuk badan perencanaan legal pada pertengahan 2011. Inggris berencana untuk berinvestasi sebanyak 24 juta dollar AS dalam fase lanjut pembangunan SKA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih berkenan meninggalkan jejak
Komentar Pengunjung sangat diharapkan